Selamat datang di "CINGSINGSEHAT.COM"

coba

RADIO MPU KANWA || BERANDA || PPNI || BELANJA DI GANJAR || UU KEPERAWATAN 

RIAS PENGANTIN DAN STUDIO FOTO

SEHAT UNTUK SEMUA

Anda Pengunjung Ke

Selasa, 12 Oktober 2010

Menilik Potensi Galian C di Sungai Cigunung, Kecamatan Salem

Ditulis oleh Administrator
Monday, 11 October 2010
Sungai Cigunung yang membelah Kecamatan Salem, Kabupaten Brebes, memiliki kandungan alam yang dapat mensejahterakan warga di sekitarnya. Seperti apa potensi tersebut?

LAPORAN: TEGUH SUPRIYANTO

BUNYI nyaring palu terdengar berdenting ketika beradu dengan permukaan batu yang keras. Dengan 2-3 kali pukulan, ’’plek…!’’

Batu dengan ukuran empat ruas jari itu pun terbelah menjadi kepingan batu yang lebih kecil. Bunyi yang sama terdengar berulang-ulang, hingga perempuan yang tampak telah berumur senja menghentikan ayunan palunya.

Saat itu, matahari telah berada tegak di atas ubun-ubun. Meski begitu, teriknya sengatan matahari tidak terasa karena terhalang tebalnya dinding besar di bawah jembatan Sungai Cigunung yang membelah Kecamatan Salem, tempat ia berteduh.

Bagi Wurningsih (45), pagi artinya ia harus sesegera mungkin memasak untuk keluarganya. Karena anak pertamanya yang perempuan saat ini tengah mengandung calon cucu kedua Wurningsih. Sementara, suami si anak bekerja sebagai buruh di Jakarta.

Selepas memasak, sekitar pukul 06.30 WIB, ia langsung ke pasar untuk keperluan belanja kebutuhan dapur harian.

’’Biasanya, saya mulai memecah batu jam 07.30 WIB. Bedug dzuhur istirahat sebentar," kata Wurningsih saat ditemui Radar di sela-sela kerjanya sebagai pemecah batu Senin (11/10).

Pekerjaan memecah batu split, lanjutnya, merupakan kegiatan rutin harian yang sudah dikerjakannya selama puluhan tahun.

’’Anak saya semuanya ada tiga. Dua laki-laki sedang bekerja di Jakarta bersama menantu, sedangakan anak saya yang perempuan tinggal bersama saya. Sebelumnya, dia juga membantu jadi pemecah batu. Tapi sekarang sedang hamil anak nomor dua jadi hanya bantu-bantu di rumah saja," tutur Wurningsih.

Menurutnya, untuk dapat satu mobil bak terbuka dibutuhkan waktu 2-3 hari. Dengan hasil untuk tiap satu mobil Rp 30 ribu, dalam satu bulan Wurningsih rata-rata mendapatkan upah Rp 150 ribu. Karena Sungai Cigunung tidak selalu dapat diambil batunya terlebih jika sedang banjir.

’’Lumayan Mas, daripada nganggur. Hitung-hitung bisa memberi uang saku sekolah cucu," ujarnya.

Di wilayah aliran Sungai Cigunung, dijelaskan Wurningsih, terdapat sekitar 30-an perempuan pemecah batu. Biasanya, setiap pagi mereka akan ikut mengangkat batu dari sungai dengan menggunakan ember yang dibawahnya telah dilobangi.

Namun, sejalan dengan masih seringnya turun hujan cukup menghambat aktivitas para pemecah batu di lokasi ini. Beberapa di antara pekerja mulai meninggalkan pekerjaan tersebut dengan alasan pendapatan mereka berkurang, sehingga beralih menjadi buruh tani.

’’Hujan hampir tiap hari datang, sehingga air di sungai selalu besar dan kami kesulitan jika harus mengambil batu di tengah sungai. Ini saja tinggal menghabiskan batu yang sudah diambil beberapa minggu lalu," ungkapnya.

Meski demikian, keberadaan Sungai Cigunung sebagai penopang ekonomi sebagian warga sangat dirasakan manfaatnya, terlebih di saat musim kemarau datang dan sawah tadah hujan tidak lagi ditanami pemiliknya.

Banyak para tenaga buruh tani menjadikan Sungai Cigunung sebagai sumber pendapatan mereka. (*)http://www.radartegal.com/index.php/

Tidak ada komentar:

Hi hi hi hiii....