Selamat datang di "CINGSINGSEHAT.COM"

coba

RADIO MPU KANWA || BERANDA || PPNI || BELANJA DI GANJAR || UU KEPERAWATAN 

RIAS PENGANTIN DAN STUDIO FOTO

SEHAT UNTUK SEMUA

Anda Pengunjung Ke

Sabtu, 01 Oktober 2011

4 Penampilan Wanita Ini Bikin Pria Turn Off

Jum'at, 30 September 2011 - 11:55 wib

Dwi Indah Nurcahyani - Okezone

Jangan make up berlebihan (Foto: Corbis)
Jangan make up berlebihan (Foto: Corbis)
PENAMPILAN yang menarik ternyata juga memberikan kesenangan bagi yang melihatnya, termasuk pasangan Anda. Karena itu, hindari saja lima penampilan ini jika tak ingin pria menghindari Anda.

Berikut ini yang dipaparkan Shine untuk Anda.

Make up berlebihan

Hal paling mencolok ketika wanita tampil di hadapan pria yakni penggunaan make up yang berlebih, misalnya terlalu menyolok dan make up yang tidak baik. Bukannya membuat pria tergugah hasratnya, tapi justru membuat gairahnya melempem karena Anda tampil seperti badut.

Belahan dada yang terlalu rendah

Menjaga pandangan mata memang bukan hal yang mudah. Pria mengaku bahwa dengan belahan dada mereka, mungkin dapat tersulut gairahnya. Namun dengan tampilan belahan dada yang berlebihan, justru akan menimbulkan tantangan lain. Ketika belahan dada terlalu rendah, maka pria pun akan berasumsi bahwa dia sedang menutupi kelemahan fisiknya yang lain sehingga mencari perhatian pria dengan cara seperti itu.

Rok terlalu pendek dan “stiletto” murahan

Ketika pria melihat seorang wanita berpakaian murahan, maka imej pria pun terkoneksi pada penari striptis. Ya, bagi pria, busana yang tak berkelas akan membuatnya seperti seorang wanita yang tidak banyak tantangan, sementara bagi pria tantangan adalah hal yang mereka sukai.

Jangan mengenakan aksesori secara berlebihan

Tampilan ini pun membuat pria tak bergairah melihatnya. Apalagi ketika keluar kencan bersamanya, penampilannya sangat berlebihan. Misalnya, menggunakan jins dan t-shirt tapi tas yang dikenakan besar sekali. Tentu hal tersebut sangat mengganggu pria. Jadi, tampil “fashionable” sangat diperbolehkan. Hanya saja Anda perlu mengetahui tempat dan waktu, sehingga tampilan pun tampak alami dan enak dipandang.(tty)

Bila Pasangan Terlalu 'Nempel'

Sabtu, 1 Oktober 2011 - 09:10 wib

COBA bayangkan Moms menelepon Dads di kantor lebih dari 15 kali dalam sehari hanya untuk urusan sepele.

Hubungan dan komunikasi intens antara Moms and Dads memang wajib hukumnya. Namun jika salah satu memegang kendali perhatian atau menujukkan sikap membutuhkan kehadiran pasangan terlalu berlebihan, bagaimana jadinya?

Kondisi ini disebut sebagai clingy atau kelekatan yang berlebihan.

Samakah dengan posesif?

Dalam sehari-hari, Anda mungkin akrab dengan sikap posesif atau ketergantungan (dependency) yang berlebihan. Perbedaannya adalah dalam sikap posesif, seseorang cenderung ingin selalu memiliki dan menguasai pasangannya.

Jika posesif seringkali lebih didasari sikap tidak percaya dan takut kehilangan, maka clingy lebih dilatarbelakangi faktor dalam diri, seperti rasa ketidaknyamanan atau ketidakpercayaan pada dirinya sendiri, sehingga secara berlebihan membutuhkan seseorang yang lekat dengannya.

Berawal dari kebiasaan

Moms yang menganggap bahwa dirinya tidak akan bisa berbuat apa-apa tanpa Dads, begitu pula sebaliknya, merupakan salah satu contoh sikap clingy.

Tak selamanya sikap ini menjadi baik dan menguntungkan keharmonisan rumah tangga. Namun beberapa pasangan merasa nyaman dengan hal ini, keduanya merasa saling dibutuhkan dan diperhatikan.

“Kalau saya sih senang-senang saja kalau istri membutuhkan saya jika ingin pergi kemanapun, bahkan kadang menelepon saya di sela-sela pekerjaan. Saya tak merasa direpotkan kok. Bagi saya itu bentuk perhatian,” ucap seorang Dads.

Bagaimana yang berseberangan pendapat seperti pengalaman salah satu Moms ini, “Saya agak merasa terganggu sebenarnya jika suami menelepon berulangkali untuk hal-hal sederhana yang sebenarnya bisa ia tanyakan pada pihak yang bersangkutan, misalnya proses administrasi perbankkan yang biasa saya tangani.Kali ini mau tak mau ia yang harus bergerak karena saya mengurus buah hati yang sedang sakit.”

Di sini justru Moms merasa banyak hal yang bisa dilakukan secara bergantian dengan Dads. Namun karena Moms memiliki kebiasaan menangani semua urusan rumah tangga sendiri maka ketika Dads harus mengatasinya, ia menjadi kerepotan hingga sulit menentukan tindakan.

Mungkin juga karena Moms sedang cemas dengan kondisi si buah hati, menjadi tak nyaman saat Dads berulangkali meneleponnya. Padahal jika situasinya tidak demikian, mungkin Moms juga tidak akan keberatan mengurus semuanya.

Memang masalah di atas hanya masalah kebiasaan, namun dari kebiasaan tersebut bisa terbentuk sikap ketergantungan bahkan kelekatan yang berlebihan.

Sesungguhnya perilaku ini tidak sepenuhnya salah atau tidak dapat dikatakan sebagai perilaku yang menyimpang. Namun cenderung lebih tepat jika dikatakan sebagai kecenderungan perilaku yang dipandang negatif.

Sampai taraf mengganggu?

Yang perlu dicermati bukanlah siapa yang bersikap clingy pada siapa, namun apakah antara Moms and Dads sudah tercipta kesepakatan jika terjadi hal-hal demikian.

Sikap clingy masih dianggap normal apabila tidak sampai mengganggu aktivitas keseharian seseorang. Sebaliknya, sikap clingy dianggap masalah bila pasangan merasa terganggu dengan sikap tersebut.

Misal konsentrasi kerja terganggu, sulit menentukan sikap atau curiga, mudah tersinggung, hubungan dengan pasangan terganggu dan sebagainya.

Jika dibiarkan, bukan tidak mungkin akan memperburuk keharmonisan rumah tangga.

Kiat atasi clingy dalam rumah tangga:

- Masing-masing terlebih dulu harus memahami bahwa ada orang lain yang memiliki kehidupan di luar kita. Bila Moms&Dads berpikir semua yang dilakukan adalah bagi dan hanya untuk satu sama lain, justru akan jadi menjengkelkan bagi orang-orang di sekitar kita.

- Pahami pasangan Anda, coba dengarkan apa yang mereka inginkan, kebutuhan mereka, dan bagaimana kesepakatan antarpasangan.

- Sesekali mengambil waktu bersama teman-teman di sekitar pasangan dapat memberi pencerahan di tengah kepenatan. Anda bisa berbagi bahkan belajar dari pengalaman orang lain sehingga bisa bersikap lebih bijak dalam rumah tangga.

- Peka terhadap situasi rumah tangga. Jika kelekatan sudah menjadi ketergantungan yang berdampak ke arah negatif, perlahan-lahan coba cari cara untuk mengembalikan kondisi tersebut ke jalur yang lebih baik.

Misalnya perlahan-lahan meninggalkan pasangan untuk keluar kota namun dalam jangka waktu yang singkat. Katakan pada pasangan ke mana Anda pergi, dan kapan akan kembali.

Katakan padanya setelah kembali bahwa kegiatan Anda itu menyenangkan, tapi tentu saja lebih menyenangkan untuk berada di rumah bersamanya. Ingatlah selalu untuk tidak menyimpan rahasia.

- Bangun komunikasi yang baik, sehingga saat menyampaikan perasaan suka-tidak suka, nyaman-tidak nyaman dapat diterima dengan baik oleh pasangan.

Yakinkan pada diri Anda dan pasangan bahwa berbagi urusan rumah tangga bukan berarti harus merasa lekat atau tergantung. Masing-masing memiliki aktivitas yang bisa dilakukan sendiri-sendiri untuk tujuan bersama yang lebih positif. (Sumber: Mom&Kiddie)
(//nsa)

Rabu, 28 September 2011

Kemoterapi pada Kehamilan Dinilai Aman

 
 

Kompas.com - Pasien kanker yang sedang hamil tidak perlu menunda melakukan kemoterapi atau pun melakukan aborsi karena kemoterapi dinilai aman untuk janin. Efek negatif justru ditemui pada bayi yang dilahirkan prematur untuk menghindari kemoterapi.

Para ilmuwan yang meneliti efek perkembangan mental dan kesehatan anak-anak yang lahir dari ibu yang melakukan terapi kanker saat hamil menemukan, anak-anak itu tidak terpengaruh oleh obat kemoterapi. Perkembangan mereka justru terganggu jika mereka dilahirkan prematur, baik secara alami atau induksi.
"Data riset menunjukkan anak-anak lebih menderita akibat kelahiran prematur dibandingkan oleh kemoterapi prenatal," kata Frederic Amant, ahli ginekologi onkologi dari Universitas Hospitals Leuven di Belgia yang melakukan riset ini.

Makin banyaknya kasus kanker yang menyerang orang usia produktif menyebabkan cukup banyak wanita hamil yang menderita kanker. Di Eropa saja setiap tahunnya 2.500 - 5.000 ibu hamil didiagnosa kanker. Diagnosis tersebut menimbulkan trauma bagi calon ibu yang khawatir terapi pengobatan kanker akan berakibat buruk pada janinnya.

Amant mengatakan, dari pengalamannya, kebanyakan calon ibu tersebut memutuskan untuk aborsi karena mereka takut pada efek terapi kanker pada janin. Di lain pihak, para dokter juga kerap menyarankan pasiennya untuk menunda terapi kanker atau mempercepat persalinan bayi, biasanya pada usia kehamilan 32 minggu.
Namun dari hasil penelitiannya, tidak tepat jika kemoterapi diberikan setelah usia kehamilan 12-14 minggu. Lagi pula, hanya sebagian kecil saja obat kemoterapi yang bisa sampai ke plasenta dan janin. Obat tersebut menurut Amant tidak memiliki efek kesehatan pada perkembangan janin.
Dari 70 bayi yang diteliti, 68 lahir selama kurun waktu penelitian dan dua pertiganya lahir sebelum usia 37 minggu.

Amant menemukan, tipe cacat lahir yang ditemukan pada anak-anak tersebut hampir sama dengan anak dari populasi umum. Para peneliti juga tidak menemukan adanya kelainan jantung.
Meski demikian, jika ada gangguan perkembangan kognitif, yang diukur dari nilai IQ dan tes perilaku, masih tergolong normal. Hanya mereka yang IQ-nya rendah terutama disebabkan karena kelahiran prematur.

Selama ini sudah diketahui bahwa bayi yang lahir prematur beresiko tinggi mengalami kesulitan dalam belajar. Penelitian juga membuktikan, bayi yang lahir 1-2 minggu lebih awal sebelum usia 40 minggu juga lebih sering mengalami kesulitan belajar.

Kembali pada studi mengenai kemoterapi dan kehamilan, Amant menekankan bahwa hasil penelitian ini masih harus dibuktikan dengan riset jangka panjang. "Pada saat ini kita belum tahu apakah kemoterapi pada kehamilan berdampak jangka panjang, misalnya pada kesuburan anak atau risiko kanker di masa depan," katanya

Hi hi hi hiii....