Yang penting Tekun, Telaten dan Kerja KerasBerbekal ketekunan dan kerja keras serta keterampilan yang dimilikinya, H Sobari (68) yang hanya seorang perajin anyaman bambu bisa melihat kabah di tanah suci. Bagaimana perjuangannya? LAPORAN: TEGUH SUPRIYANTO Suatu keberhasilan tak begitu saja didapatkan. Semuanya membutuhkan proses, kerja keras dan disiplin. Ditemui di rumah yang sekaligus dijadikan sebagai tempat usahanya, warga RT/01 RW 02 Desa Bentarsari, Kecamatan Salem ini tengah mengisi hari-harinya sebagai perajin anyaman bambu. Dengan cekatan tangannya menganyam bilah-bilah bambu yang telah dihaluskan sedemikian rupa, beragam alat rumah tangga seperti dinkul (rempat nasi), rinjing maupun lainnya. Kepandaian tersebut diakui H Sobari didapat secara turun-temurun dari orang tuanya. "Sejak umur 9 tahun saya sudah mengenal kerajinan ini, di sini banyak sekali tanaman bambu, hampir setiap warga punya pohon bambu. Dari situ saya mencoba untuk mengembangkan tanaman bambu ini hingga bisa menghasilkan produk yang bisa dijual," buka Sobar saat ditemui di rumahnya. Dikatakan, demi mendapat hasil yang maksimal untuk bahan pembuatan dia hanya menggunakan tanaman bambu dari jenis bambu tali. Pembuatan kerajinan ini tak terlalu membutuhkan waktu lama. Dalam sehari, dia bisa menghasilkan sepuluh anyaman. Untuk membuat keranjang ini membutuhkan bambu yang tak terlalu tua. Kemudian bambu utuh ini dipotong-potong hingga menjadi bagian kecil. Setelah itu, baru dijemur di tempat yang terkena panas matahari. Bambu yang telah terpotong itu lalu dihaluskan menggunakan pisau tajam sebelum dianyam. "Tidak ada kendala dalam pembuatan anyaman ini. Terpenting, bambu jangan sampai terkena air hujan, karena anyaman akan jadi hitam. Tidak semua jenis bambu bisa digunakan, ini karena tekstur yang dimiliki bambu tali sangat mudah untuk dibentuk," katanya. Seiring dengan perjalanan waktu, anyaman bambu yang dihasilkan Sobari semakin dikenal masyarakat. Tidak hanya di Kecamatan Salem saja, namun juga ke berbagai daerah seperti Brebes, Tegal bahkan Kuningan, Garut dan Tasikmalaya di Jawa Barat. "Sehari saya sendiri bisa menghasilkan 10 buah dinkul dengan harga perbijinya sekitar Rp 7.000," ungkap Sobari. Dari hasil ketelatenannya tersebut, akhirnya Sobari berkesempatan untuk menjalankan rukun Islam ke lima yakni berangkat ke tanah suci Mekah menjalankan ibadah haji. "Yang penting tekun, telatenan, dan kerja keras serta mensyukuri apapun hasil yang didapat. Saya yakin semua orang bisa memiliki kesempatan," ujarnya. Camat Salem H Muhammad Adnan SIP dikonfirmasi mengatakan, di wilayahnya terdapat 800 perajin anyaman bambu yang tersebar di 6 Desa sentra perajin anyaman bambu. Yakni Desa Ganggawang, Gangdoang, Bentar, Bentarsari, Ciputih dan Gunung Tajem. "Semuanya masih berskala industri rumah tangga yang dikelola secara mandiri oleh warga, kami sendiri saat ini tengah mengusulkan untuk mengadakan pelatihan khsususnya bagi pengembangan potensi industri ini," kata Adnan. (*) Radar Tegal |
coba
RADIO MPU KANWA || BERANDA || PPNI || BELANJA DI GANJAR || UU KEPERAWATAN |
RIAS PENGANTIN DAN STUDIO FOTO
Anda Pengunjung Ke
Minggu, 31 Juli 2011
Perajin Anyaman Dari Salem Brebes
Diposting oleh
cingsingsehat
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar