Selamat datang di "CINGSINGSEHAT.COM"

coba

RADIO MPU KANWA || BERANDA || PPNI || BELANJA DI GANJAR || UU KEPERAWATAN 

RIAS PENGANTIN DAN STUDIO FOTO

SEHAT UNTUK SEMUA

Anda Pengunjung Ke

Rabu, 08 Februari 2012

Jemput Bola Pasarkan Produk Batik Salem Brebesan


















Poto: Batik Salem sedang diserbu para pembeli

BATIK Salem atau biasa disebut Batik Brebesan bisa jadi punya pangsa pasar yang lebih besar dari pada yang para pengerajin dapatkan selama ini. Kesulitan memasarkan produk tangan itu menjadi kendala para pengusaha untuk bisa mendapatkan keuntungan yang layak. Hingga akhirnya sejumlah pengrajin harus rela hati memasarkan produknya secara jemput bola. Beradagang keliling mengunjungi setiap calon pembelinya. Selain berharap ada peningkatan pendapatan, juga bisa memperkenalkan batik brebesan ke kalangan yang lebih luas.
Salah satu penjaja Batik Brebesan Edo Sudarto (50), misalnya harus berkeliling dari desa, kantor, kota ke tempat lainnya. "Harus menawarkan langsung ke masyarakat, kalau tunggu pembeli lama. Dengan dagang keliling seperti ini, Alhamdulillah malah laris mas," katanya saat menawarkan batik di Kantor Humas dan Protokol Setda Brebes, Selasa (7/2).
Setiap harinya, Eko mengaku berangkat dari Salem dengan menggunakan angkutan umum. Biasanya, dia membawa 30 sampai 50 potong kain setiap kali hendak keliling. Tidak hanya ke menjajakan ke masyarakat Kabupaten Brebes, Eko juga berdagang keliling ke Tegal, Slawi dan sekali waktu hingga ke Kabupaten Pemalang.  
Pria asal Desa Bentarsari, Salem ini pada awalnya hanya memasarkan kain batik hasil kreasi dari Rusmini, yang tak lain adalah sang ibu mertua. Seiring dengan meningkatnya permintaan penjualan dengan jemput bola, produk lain milik tetangganya juga kerap dibawa untuk stok persediaan. Di desanya sendiri terdapat sekitar 140 hingga 200 perajin batik yang mayoritas para ibu rumah tangga.  
"Saya biasanya bawa 30 sampe 40 potong habis. Sekarang tidak hanya buatan mertua saya, tapi buatan tetangga juga saya bawa agar tidak kehabisan," tuturnya.  
Soal harga, Eko mematok dari Rp 70 ribu hingga Rp 200 ribu rupiah perpotong, tergantung motif dan kualitas. Alhamdulillah, laris mas. Padahal, sebelum batik Salem terkenal, sulit menjualnya, tetapi sekarang malah diburu rame-rame,” ceritanya.
Tapi bukan hanya segi keuntungan saja yang diburu. Eko juga tetap mensosialisasikan Batik Brebesan ini ke masyarakat luas. Dia tanpa segan menceritakan nilai filosofi dari motif batik kepada para calon pembelinya. Saat itu, ada empat motif yang dibawanya yakni motif Kembang Kanthil, Galaran Kembang Kangkung, Wijaya Kusuma dan Gagak Setra. Selain empat motif itu, Eko juga harus menguasai nilai filisofi dan karakter dari seluruh motif lainnya yang berjumlah hingga 23 motif. Ya, masyarakat Salem terus menciptakan motif-motif yang variatif dan bernuansa lokal. Antara lain motif Bebek Boyong, Ceplok Daun Brambang, Ceplok Gudang Brambang, Endog Sigar Ceplok Brambang, Irisan Brambang Sewu, Ceplok Brebes, Sekar Jagad Brebes, Bebek Sajodo, Ceplok Manggaran Bebek Sapangon, Gudang Brambang Ukel, Brambang Sebedheng, Parang Brambang Seling Manggaran dan lain-lain.
Dari hasil penjualannya jemput bola, berkeliling ke bebrbagai, Eko merasakan keuntungan secara ekonomis. Tapi lebih dari itu, dia juga berbangga bisa mengenalkan Batik Salem hingga melekat di hati masyarakat. Begitulah, Batik Brebesan kini makin digandrungi warga Brebes dan sekitarnya. Terbukti, dari hasil penjualan batik yang dijajakan secara keliling itu. ”Kapan lagi kita memakai baju hasil kreasi sendiri, kalau tidak sekarang?” kata Eko sembari promosi. (ismail fuad). Radar Tegal.

Tidak ada komentar:

Hi hi hi hiii....